Solusi Interaksi Pendatang dari NTT ke Bali

Headline183 Dilihat

Gede Pasek Suardika

 

Jakarta-Oponus.com

Tulisan ini saya buat sebagai bentuk saling introspeksi agar ada semangat saling memperbaiki dan tercapainya tujuan utama datang ke Bali.

1. Sejak Saya kecil, keluarga Saya memiliki banyak hubungan yang dekat dengan keluarga dari NTT di Singaraja. Saat kecil saya masih ingat keluarga Korassa di Buleleng. Selain karena kebetulan sebelah rumah di satu halaman ada gereja yang banyak jemaatnya dari NTT. Begitu dekatnya orangtua dengan anak-anaknya sampai Tante Korassa saat pindah ke Denpasar masih berhubungan dekat hingga beliau meninggal. Beda agama beda suku tetapi rasa berkeluarga terasa begitu kuat saat itu

2. Di Jakarta saya banyak bergaul dengan sahabat sahabat dari NTT dan selalu lengket seperti saudara. Dari Andry Garu, Ramses, Agustinus Lesek dan lainnya. Banyak terasa kesamaan karena di rantauan, sesama dari daerah Sunda Kecil, dan mungkin efek psikologis dulu Bali, NTB, NTT jadi satu struktur dari Polisi dan Tentaranya. Maklum kebetulan kita anak polisi.

3. Ketika dulu pernah jadi kepala personalia di Columbia Cash and Credit saya juga sering menerima dan berinteraksi dengan teman teman dari NTT. Semua berjalan dengan harmoni dan baik. Saat ini teman teman wartawan di Bali juga banyak bersahabat juga dari NTT.

4. Saya mencermati pasca Covid 19, dan kini makin parah, akibat kesulitan di NTT dalam hal lapangan pekerjaan, saudara saudara di NTT banyak merantau dan salah satunya di Bali. Jumlahnya begitu mencolok beberapa tahun belakangan ini. Akibat gap kualitas, pendidikan mental dan lainnya akhirnya kini sering muncul konflik akibat perbedaan kultur yang jauh berbeda. Kost satu orang diisi banyak orang, suka mabuk dan membuat rusuh, di jalanan sering memancing keributan, dan lainnya. Bali yang dikenal sebagai daerah pariwisata yang aman dan nyaman jadi terusik.

5. Hampir tiap hari media ataupun media sosial selalu saja ada isi prilaku destruktif dari saudara kita dari NTT. Paling menonjol soal mabuk dan aksi premanisme. Bahkan menyerbu dan menganiaya orang asing, tanpa paham betapa rawannya prilaku seperti itu bagi citra Bali. Akibatnya muncul antipati dan potensi konflik sosial karena kekecewaan ditumpahkan di media sosial. Parahnya lagi yang ribut tidak bisa membedakan NTT yang luas. Sebab masing masing daerah juga memiliki kharateristik yang berbeda. Ada Flores, Sumba Manggarai, Kupang, Ende Lembata, dan lainnya.

6. Ke depan untuk tetap bisa menjaga harmoni sosial, perlu dilakukan langkah langkah oleh pemerintah dua provinsi. Bali butuh tenaga kerja produktif seperti saudara dari NTT, NTT perlu lapangan kerja. Bali memerlukan pekerja yang bisa ikut menjaga rasa aman dan nyaman Bali sebagai daerah pariwisata, dan Pemerintah NTT harus mendidik tentang hospitality kepariwisataan bagi warganya yang kerja ke Bali.

7. Jadi perlu ada semacam LPK di NTT yang memberikan pembekalan awal sebelum ke Bali sehingga cara pikir cara tutur dan cara tindak para pekerja bisa menyesuaikan. Kebiasaan berkumpul sehingga terasa seperti di kampung sendiri menjadi tantangan tersendiri karena berada di tempat yang budayanya berbeda.

8. Para penerima kerja di Bali baik itu Kontraktor, perusahaan apapun harus juga melakukan training singkat pengenalan tentang Bali. Apalagi dengan SDM rendah yang pendidikannya terbatas. Pengusaha harus ikut juga memikul tanggungjawab sosial ini. Jangan hanya berpikir dapat tenaga murah saja.

9. Warga NTT di Bali yang mana berasal dimasing masing daerahnya juga menjadi orangtua para pekerja yang baru datang untuk mempercepat adaptasi ditempat baru. Bila perlu ada semacam penanganan bersama dengan pemerintah Bali. Sebab jika dilepas begitu saja, maka saudara saudara dari NTT yang baik dan begitu diterima di Bali bisa jadi korban stigma sosial akibat kedatangan pekerja generasi baru yang jauh dari standar kualitas bekerja di daerah Pariwisata.

10. Saya sering mendapatkan keluhan, ekspresi kejengkelan dari saudara asal NTT yang sudah begitu nyaman hidup di Bali, sebab akibat ulah pendatang baru yang tidak paham etika dan berprilaku destruktif tersebut. Sebab akibat ulah mereka, banyak keluarga mereka yang datang dengan niat baik, berprilaku baik menghadapi kendala dari sulitnya mencari tempat tinggal hingga dicurigai jika beraktivitas. Kasihan saudara kita yang baik baik terkena dampaknya.

11. Tidak ada masalah yang tidak selesai jika ditangani. Sebab esensinya semua membutuhkan pekerjaan, tetapi semua juga membutuhkan rasa aman dan nyaman. Sudah seharusnya hal ini dicarikan solusi. Jika tidak maka isi dunia media dan medsos terkait interaksi warga dari NTT di Bali akan lebih banyak negatifnya daripada positifnya. Tugas kita semua untuk membuat semuanya menjadi lebih baik lagi.

#DahGituAja

(Red-JBL)

Komentar