PONTIANAK — oponus.com
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi perhatian serius pemerintah di sejumlah wilayah Kalimantan. Kebakaran terutama terjadi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sementara sejumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi.
Kementerian Kehutanan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kini memperkuat penanganan melalui operasi terpadu, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu menurunkan hujan di wilayah yang membutuhkan pembasahan lahan.
OMC di Kalimantan Barat dijadwalkan berlangsung pada 5–14 September 2026, sedangkan di Kalimantan Tengah berlangsung mulai 6–14 September 2026. Operasi tersebut didukung pesawat dan logistik BNPB untuk mempercepat pengendalian kebakaran.
Ratusan Hotspot Masih Terdeteksi
Kementerian Kehutanan melaporkan, berdasarkan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20, pada 4 September 2026 pukul 21.15 WIB terdeteksi sebanyak 818 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional.
Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah termasuk wilayah yang mendapat perhatian khusus karena masih terdapat konsentrasi titik panas dan potensi penyebaran api. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang turun di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada 4 September memberikan perkembangan positif, namun pemerintah tetap mempertahankan status kewaspadaan.
Api Juga Mendekati Kawasan IKN
Kebakaran juga dilaporkan mendekati kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur. Reuters melaporkan sekitar 400 hektare wilayah di sekitar Nusantara telah terbakar, termasuk sekitar 300 hektare di kawasan Bukit Soeharto.
Kondisi tersebut mendorong peningkatan upaya pemadaman, termasuk water bombing dan modifikasi cuaca.
Lima Perusahaan di Kalbar Dijatuhi Sanksi
Pemerintah juga mulai mengambil langkah penegakan hukum terhadap perusahaan yang wilayah konsesinya terdampak kebakaran.
Kementerian Kehutanan pada 4 September menjatuhkan sanksi administratif kepada lima pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat menyusul dugaan kebakaran di area konsesi mereka.
Salah satu perusahaan yang disebut adalah PT Mahkota Rimba Utama di Kabupaten Ketapang, dengan area terbakar diperkirakan mencapai 1.275,87 hektare. Empat perusahaan lainnya berada di Ketapang dan Sanggau.
Asap Mengancam Kesehatan dan Satwa
Karhutla tidak hanya mengancam kawasan hutan, tetapi juga masyarakat dan satwa liar. Di Ketapang, Kalimantan Barat, kabut asap dilaporkan mengganggu aktivitas masyarakat dan berdampak pada kesehatan.
Satwa liar seperti orangutan juga menjadi korban. Sejumlah orangutan telah diselamatkan dari wilayah terdampak kebakaran di Kalimantan Barat. Salah satu orangutan yang ditemukan di sekitar area perkebunan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Pemerintah Perkuat Penanganan
BNPB, Kementerian Kehutanan, BMKG dan kementerian/lembaga terkait terus melakukan koordinasi untuk mengendalikan karhutla. Penanganan dilakukan melalui pemadaman darat, operasi udara, water bombing serta operasi modifikasi cuaca.
Pemerintah juga meminta kewaspadaan tetap dipertahankan meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah. Kondisi lahan yang masih kering dan keberadaan hotspot membuat potensi kebakaran kembali muncul tetap tinggi.
Karhutla di Kalimantan menjadi peringatan bahwa pengendalian kebakaran tidak cukup hanya dilakukan ketika api telah membesar. Pencegahan, pengawasan kawasan rawan, pengelolaan lahan gambut serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti lalai atau melanggar menjadi faktor penting untuk mencegah bencana serupa semakin meluas.




![a_6aa8139fdf03f[1]](https://oponus.com/wp-content/uploads/2026/10/a_6aa8139fdf03f1-300x178.jpeg)


Komentar