Karhutla Kalimantan Makin Mengkhawatirkan, Asap Ganggu Penerbangan dan Api Dekati Permukiman

Nasional135 Dilihat

PALANGKA RAYA – oponus.com

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius di sejumlah wilayah Kalimantan. Kebakaran yang meluas tidak hanya menghanguskan lahan, tetapi juga memicu kabut asap, mengganggu aktivitas masyarakat hingga berpotensi mengganggu penerbangan.

Kondisi tersebut terjadi ketika musim kemarau meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah yang memiliki lahan gambut dan vegetasi mudah terbakar.

Pemerintah kini memperkuat operasi pengendalian karhutla di Kalimantan, termasuk melalui pemadaman darat, dukungan udara, serta operasi modifikasi cuaca. Pemerintah menyatakan operasi terpadu tersebut diperkuat untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran.

Palangka Raya Catat 428 Hektare Lebih Terbakar

Salah satu wilayah yang mengalami dampak cukup serius adalah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

BPBD Kota Palangka Raya mencatat 428,46 hektare lahan terbakar sepanjang periode 1 Juni hingga 24 Agustus 2026. Kebakaran tersebut tersebar di empat kecamatan, dengan kejadian terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya.

Sehari sebelumnya, BPBD mencatat luas kebakaran mencapai 422,91 hektare dalam 325 kejadian hingga 23 Agustus. Kondisi semakin mengkhawatirkan karena sejumlah titik api mulai mendekati permukiman warga.

Warga bahkan ikut turun tangan memadamkan api yang muncul di sekitar permukiman.

Kualitas Udara Mulai Menjadi Perhatian

Dampak karhutla tidak berhenti pada kerusakan lahan. Kabut asap juga mulai menjadi perhatian pemerintah karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

Pemkot Palangka Raya memperkuat kesiapan puskesmas untuk menangani dampak kabut asap, terutama risiko gangguan kesehatan pernapasan. Dinas Kesehatan setempat bahkan menyiapkan ruang oksigen di 11 puskesmas sebagai langkah antisipasi.

Pemkot Palangka Raya juga telah memperpanjang status tanggap darurat karhutla dan kekeringan hingga 8 September 2026, dengan pertimbangan masih tingginya kejadian dan potensi kebakaran serta mulai mendekatnya titik api ke permukiman.

Kalimantan Selatan Juga Dibayangi Ribuan Titik Panas

Ancaman karhutla juga terjadi di Kalimantan Selatan.

BMKG mendeteksi 473 titik panas di Kalimantan Selatan pada Selasa (25/8/2026). Sehari sebelumnya, jumlah titik panas yang terdeteksi di provinsi tersebut bahkan mencapai 696 titik berdasarkan pemutakhiran data BMKG.

Situasi tersebut membuat sejumlah wilayah harus meningkatkan kewaspadaan, terutama kawasan yang memiliki lahan gambut dan wilayah yang rentan mengalami kekeringan.

Kebakaran di Kalimantan Selatan juga mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Kabut asap yang muncul akibat karhutla di kawasan Banjarbaru dilaporkan mengganggu kondisi penerbangan.

Asap Berpotensi Menyeberang ke Negara Tetangga

Persoalan karhutla di Kalimantan juga memiliki dampak lintas batas.

BMKG menyebut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan berpotensi terbawa angin hingga ke negara tetangga. Pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang memungkinkan asap menyebar melampaui wilayah Indonesia.

Kondisi ini membuat pengendalian kebakaran di Kalimantan tidak hanya menjadi persoalan nasional, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap kualitas udara di kawasan Asia Tenggara.

Pemerintah Perkuat Operasi Pemadaman

Pemerintah terus memperkuat penanganan karhutla dengan mengerahkan berbagai unsur di lapangan.

Operasi dilakukan melalui pemadaman darat dan dukungan udara. Pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Selain pemadaman, pemerintah mulai meningkatkan pengawasan terhadap penyebab kebakaran.

Kementerian Kehutanan menyatakan telah memberikan sanksi kepada enam perusahaan di Kalimantan setelah ditemukan kebakaran pada areal konsesi dengan total luas mencapai 1.511,55 hektare.

Kemenhut juga tengah mengusut dugaan pelanggaran lain, termasuk pembukaan lahan dengan cara membakar, jual beli kawasan hutan, hingga perambahan.

Ancaman Karhutla Belum Berakhir

Meningkatnya kebakaran di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa ancaman karhutla di Kalimantan masih harus mendapat perhatian serius.

Di tengah kondisi cuaca yang mendukung penyebaran api, pemerintah dan masyarakat dituntut tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga mencegah munculnya titik api baru.

Masyarakat di wilayah terdampak juga diminta mengikuti informasi resmi terkait kualitas udara dan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi asap memburuk.

Karhutla bukan hanya persoalan hilangnya tutupan lahan. Jika tidak dikendalikan dengan cepat, kebakaran dapat mengancam permukiman, mengganggu transportasi udara, memperburuk kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Komentar