Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Menyebar ke Pesisir Banten

Nasional115 Dilihat

SERANG – oponus.com

Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang cukup signifikan.

Rangkaian erupsi yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam tercatat sebagai aktivitas letusan dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun 2026.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat erupsi mulai berlangsung sekitar pukul 23.07 WIB dan terindikasi berupa pancaran lava atau lava fountain. Aktivitas tersebut terus terpantau hingga Sabtu (5/9).

Pengamat Gunung Api Anak Krakatau, Muhammad Dika Nurzaman, mengatakan rangkaian letusan pada 4–5 September menjadi yang tertinggi sejak Gunung Anak Krakatau berada pada status Siaga.

Dalam pengamatan tersebut tercatat gempa letusan dengan amplitudo maksimum mencapai 70 milimeter.

Durasi gempa letusan juga tercatat sangat panjang, mencapai 21.600 detik.

Abu Vulkanik Mulai Capai Pesisir Banten

Aktivitas erupsi juga membawa dampak berupa hujan abu vulkanik tipis di sejumlah wilayah pesisir Banten.

Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Anyer, Kabupaten Serang, melaporkan adanya sebaran abu vulkanik yang terbawa angin ke arah timur atau wilayah pesisir Banten.

Masyarakat diminta tetap memperhatikan informasi resmi dari PVMBG dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang masuk zona bahaya.

PVMBG mengimbau masyarakat, wisatawan maupun nelayan untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.

Dentuman Terdengar di Tiga Provinsi

Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau juga diduga berkaitan dengan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan terdengar oleh masyarakat di sejumlah wilayah.

Badan Geologi menyebut laporan dentuman muncul di wilayah Banten, Lampung dan Jawa Barat, termasuk kawasan Bandung Raya.

Waktu kemunculan suara tersebut bersamaan dengan berlangsungnya erupsi Anak Krakatau.

Gelombang suara berfrekuensi rendah dari aktivitas erupsi dapat merambat cukup jauh melalui atmosfer sehingga suara dentuman bisa terdengar dari wilayah yang berjarak jauh dari sumber erupsi.

Dipastikan Tidak Memicu Tsunami

Meski aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat, PVMBG memastikan erupsi kali ini tidak berpotensi memicu tsunami.

Kepala PVMBG Badan Geologi Rita Susilawati menjelaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk setelah peristiwa erupsi dan tsunami pada 22 Desember 2018 masih relatif kecil.

Kondisi tersebut membuat potensi runtuhan tubuh gunung dalam skala yang dapat memicu tsunami dinilai tidak ada.

Masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung pun diminta tidak panik, namun tetap mengikuti arahan dan perkembangan informasi dari pemerintah serta lembaga terkait.

Abu Vulkanik Ganggu Penerbangan

Sebaran abu vulkanik juga berdampak terhadap aktivitas penerbangan. Kementerian Perhubungan menyatakan Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026) mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26 akibat adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Kementerian Perhubungan menegaskan aspek keselamatan menjadi prioritas dalam penyesuaian operasional penerbangan akibat kondisi tersebut.

Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau, masyarakat di sekitar Selat Sunda diimbau terus memantau informasi resmi PVMBG dan tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi.

Komentar