Nama Ribka kembali menjadi buah bibir. Politisi PDIP ini dilaporkan ke pihak berwajib. Bermula dari protesnya tentang penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Soeharto yang berujung kepada ucapan (tendensiusnya) terhadap catatan kelam Presiden ke-2 RI tersebut.
Ketika Ribka dilaporkan atas ucapannya itu, itu bagus. Biarlah ranah hukum “bicara”. Ketika Ribka dikaitkan publik dengan PDIP yang juga, melalui Ketua Umumnya, (seperti) keberatan atas pemberian gelar tersebut, itu juga biasa. Memang Ribka politisi PDIP … kok. Ketika Ribka dihubungkan dengan PKI, partai terlarang pada masa lalu, memang fakta historisnya begitu. Beliau anak tokoh PKI. Tetapi menganggap beliau pasti dan akan terus “terkutuk” karena ayahnya adalah pentolan PKI, rasanya tidak adil.
Sekitar 17 tahun yang lalu, saya membeli buku karangan Ribka Tjiptaning. Buku yang berwarna merah itu, saya beli di lapak buku emperan di sebuah perhentian Kereta Api di wilayah Jakarta. Dalam beberapa tahun belakangan ini, nama Ribka sering diperbincangkan. Tepatnya, dipergunjingkan. Gunjingan politik. Ribka atau biasa dipanggil dengan Ning ini, secara blak-blakan mengaku sebagai anak anggota/pentolan Partai Komunis Indonesia. Faktanya demikian. Sejarah hidupnya seperti itu. Dan ia tak merasa menyesal memiliki ayah yang menjadi anggota PKI tersebut. Baginya, seorang anak tak boleh menyesali ayahnya. Ini dituangkannya dalam bukunya yang belakangan (dan akan terus melekat pada dirinya) dianggap kontroversial, “Aku Bangga jadi Anak PKI”.
Saya berulang kali membaca buku tersebut. Sebuah kisah anak manusia. Sebagaimana kisah โBiografi Politik Mohammad Hattaโ karangan Deliar Noer ataupun buku-buku biografi beberapa tokoh karangan Ramadhan KH. Ning bercerita tentang hidupnya yang tragis dan traumatik karena pilihan ideologis orang tuanya. Dalam buku ini, Ning tak berkisah tentang komunis. Tak membela komunis. Tak membela PKI.
Tapi ia tak bisa memungkiri, ayahnya seorang anggota PKI. Itu faktanya. Menurutnya, tak ada yang patut ditutup-tutupi soal dirinya. Sebagai seorang anak, ia merasa bangga pada orang tuanya. Pada perjuangan orang tuanya. Pada ikhtiar bagaimana ayah dan ibunya berjuang mendidik dan membesarkan mereka. Tentang bagaimana ibunya begitu tegar menghadapi stigma negatif yang luar biasa terhadap keluarga mereka. Sampai mati, ia akan tetap membawa label bahwa ia anak anggota PKI. Lalu, pantaskah ia membenci ayah dan ibunya hanya gara-gara pilihan ideologis tersebut ?. Pantaskah ia menghilangkan catatan-catatan indah yang banyak ditorehkan ayah dan ibunya kepada ia dan adik-adiknya ?.
Sejarah juga mencatat, kisah Pemberontakan PRRI. Dihubung-hubungkan dengan Prabowo. Ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo, waktu pemberontakan PRRI terjadi, merupakan salah seorang elit pimpinan PSI (Partai Sosialis Indonesia). PSI didirikan oleh Sutan Syahrir. Orang besar. Jasanya luar biasa terhadap Republik ini. Saking besarnya, penyair Chairil Anwar menyarankan untuk โmenjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta …. menjaga Bung Syahrirโ, dalam puisi “Karawang Bekasi”nya.
Secara ideologis, PSI dekat dengan Karl Marx dan Friedriech Engels. Soemitro bergabung dengan PRRI. Kemudian, kisah selanjutnya kita tahu. Buku RZ. Leirissa, โPRRI Permestaโ, menjelaskan dengan teramat detail perjalanan pemberontakan beserta tokoh-tokohnya ini. Termasuk ayah Prabowo tersebut.
Nah …. atas nama kontestasi politik, beberapa waktu yang lalu, muncul pernyataan, โPrabowo anak Pemberontak !โ. Faktanya memang demikian. Terlepas dari perdebatan akademik mengenai PRRI tersebut serta keterlibatan Soemitro didalamnya. Katakanlah bila Prabowo tersebut anak pemberontak, apakah secara genetik akan mewarisi jiwa pemberontak pula ?. Apakah Prabowo malu punya ayah pemberontak ?. Jawabannya, pasti tidak. Ia pasti bangga punya ayah seperti Soemitro. Ia orang hebat.
Bedanya Ning dengan Prabowo hanyalah, Ning menulis buku tentang hidupnya, Prabowo … tidak.
Ayah saya pemabuk. Saya pernah berkisah panjang tentang hal ini. Ketika saya kecil, saya paling sering disuruhnya membeli Brendy ataupun TKW. Bahkan diajarinya bagaimana cara membuka Brendy yang โbaikโ ๏. Kocok … kemudian hantam dengan tangan dari bawah botol ….. pusssssssh, penutupnya dari gabus, terbang. Saya juga sering melihat ayah saya mabuk. Umak saya marah luar biasa. Ketika saya sudah sekolah (SD), ayah berhenti total minum dan mabuk-mabukkan. Sampai akhir hidupnya, pemilik โMelarat Tailorโ ini seperti orang sufi. Berkaitan dengan mabuk, ketika ditanya kawannya, โmengapa berhenti ?โ, ayah menjawab, โsaya malu sama anak-anak saya. Mereka akan menanggung beban berat di usia hidup mereka nantinya, sebagai anak seorang pemabuk !โ.
Ketika saya pulang kampung, seringkali sahabat-sahabat ayah bercerita pada orang lain tentang perilaku mabuk-mabukkan ayah.
โMalukah … saya ?โ.
Malu.
โMarahkah kamu bila ada yang bercerita tentang perilaku ayahmu itu ?โ
Tidak sama sekali.
โBanggakah kamu punya ayah ?โ.
Bangga sekali. Bukan karena perilaku mabuknya. Tapi karena ia ayah saya. Karena ia sangat sayang pada kami. Karena ia guru terbaik yang pernah saya miliki. Karena ia lelaki luar biasa bagi saya. Perilaku mabuknya itu, โhanyalah catatan kakiโ bagi tulisan hidupnya.
Seorang novelis pernah menulis, โAda yang tidak bisa kita piliuh dalam hidup ini. Siapa ayah kita, siapa Ibu kita, dari suku mana kita berasal. Maka alangkah naifnya bila kita menilai dan sinis kepada seseorang terhadap sesuatu yang tidak bisa dipilihnya !โ.
Lihat karakternya.
Lihat kualitas dirinya.
Bukan keturunannya.
Kalau bicara keturunan, yang pasti tak ada diantara kita yang keturunan Batman, Spiderman, Hulk, Superman ataupun Saruman “Lord of the Ring”. Justru bisa jadi kita ini keturunan Qabil (Kain). Pembunuh pertama di muka bumi ini. Membunuh saudaranya, Habil (Abel).
Siapa yang bisa jamin ?
: Sabtu Siang | Kampus 3 Sungai Bangek
Muhammad Ilham Fadli
(Red-JBL)







Komentar