Bali – Oponus.com
Upaya mereka yang ingin menjegal bahkan melengserkan Gibran Rakabuming dan yang ingin mempertahankan bahkan ingin menaikkanya menjadi Presiden saling keras bertabrakan belakangan ini.
Tabrakan setelah di jalur hukum kini beralih di lapangan politik. Pemicu dan pemacunya adalah Putusan MK. Ya putusan MK dengan kalimat bersayap politik yang diracik sembilan hakim MK dan sebagian politisi tersebut mampu membuat lapangan pertarungan jadi makin terbuka.
Kini semua media, media sosial riuh dan bising oleh berbagai manuver tentang Gibran. Ada yang menyerang ada yang membela. Jika mencermati, Saya teringat akan dua sosok pewayangan melihat apa yang dialami oleh Gibran saat ini. Sosok itu adalah Abimanyu dan Wisanggeni. Dua sosok muda dalam kisah Mahabaratha ini tampaknya agak pas untuk memprediksi posisi Gibran saat ini dan kedepannya.
Abimanyu adalah sosok anak dari Arjuna yang sejak kecil terlahir menjadi ksatria. Saya tidak bercerita tentang kisah cintanya dengan Dewi Utari, tetapi kisah bagaimana Abimanyu di medan laga perang Bharatayuda tampil heroik menghadapi kubu Kurawa.
Abimanyu dikisahkan di hari ketigabelas di medan laga tanah Kurusetra saat bertempur ternyata dikeroyok akibat masuk dalam jebakan formasi Cakrawayu. Abimanyu berkelahi sendiri menghadapi keroyokan kubu Kurawa. Ironisnya dengan ksatria akhirnya Abimanyu gugur di padang kurusetra.
Sementara Wisanggeni adalah keturunan Arjuna juga tetapi hanya muncul dalam pewayangan Jawa dan dalam.kisah Mahabaratha versi India tidak ditemukan..mirip dengan figur Petruk, Gareng dan Semar yang hanya ada di Jawa.
Wisanggeni juga disebutkan sebagai putra dari Arjuna dengan Batari Dresanala. Kelahirannya tidak diinginkan Dewata khususnya Bhatara Brahma. Lewat tipu muslihat dan saat Arjuna tudak ada, akhirnya Wisanggeni lahir prematur dan dibuang ke kawah Candradimuka. Bukannya hangus atau hancur, malah makin sakti mandraguna. Bahkan istana kahyangan pun guncang akan kesaktiannya.
Sempat tidak diakui oleh Arjuna sampai adu kekuatan dan Wisanggeni menang melawan ayah dan pamannya yaitu Pandawa. Dalam perang Bharatayuda, walau sakti, atau petunjuk dewata peran yang diambil tidak ikut berperang tetapi malah ditugaskan tirakat bertapa membantu dalam hening dan doa agar Pandawa menang. Setelah menang malah Wisanggeni Moksa.
Jika kisah Abimanyu yang terjadi, keroyokan para Kurawa memang dihadapi Abimanyu tetapi ujungnya mati dengan ksatria sejati. Jika mengikuti jejak Wisanggeni maka semua yang lebih tua mampu dikalahkannya tetapi kemudian malah pada perang sejatinya memilih berjuang dalam hening. Kesaktiannya digunakan dalam lakon spiritual untuk kemenangan bersama.
Ahh itu hanya cerita wayang. Tapi begitulah filosofi wayang. Kadang manusia bisa lihat bayang bayang kehidupan dari kisah wayang.
Sementara saya melihat dua sosok wayang itu dikaitkan dalam kisah Gibran saat ini. Atau netizen punya sosok lain yang agak mirip untuk memudahkan bayangan apa yang terjadi nanti dengan pertarungan politik ke depannya.
(Red-JBL)







Komentar