Gede Pasek Suardika: Bali Perlu Jengah Bila Seni Budayanya Tidak Dipedulikan

Daerah, Politik306 Dilihat

Bali-Oponus.com

“PKB hanya dibuka Gubernur Bali,tak lama ada beberapa inbox ke saya soal ketidakhadiran secara rutin Presiden RI,minus Prabowo dalam hajatan PKB tahun ini,”ungkap GPS

Selama ini sebagai bentuk “kesepekang” Pemprov Bali oleh pusat karena dinilai manuver pemimpin di Bali sering menghambat kebijakan pusat.

Maka pendapat saya sebagai berikut:

  1. PKB sejak kali pertama sudah beberapa kali hanya dibuka Gubernur selain juga seringkali Presiden atau menteri-menteri. Sehingga tidak perlu terlalu dibaca secara politis ketidakhadiran Presiden sebagai bentuk kerenggangan hubungan Bali dengan pusat. Yang penting esensi PKB adalah momentum.para seniman Bali dari generasi ke generasi bisa ada tempat monumental menampilkan karya seninya. Tidak peduli siapa yang hadir menonton. Seni adalah seni.

  2. Saya justru melihat, jika Presiden Prabowo nantinya tidak pernah hadiri PKB maka itu bisa menjadi senjata makan tuan baginya, karena di kalangan seniman Bali maupun seniman di Indonesia, Prabowo Subianto dinilai sebagai sosok pemimpin yang tidak peduli pada bidang kesenian. Sebab PKB sudah menjadi agenda nasional bahkan internasional di bidang kesenian. Langkah Gubernur Koster membuka PKB walau ada Wamen Pariwisata hadir adalah langkah yang cerdas dan tepat untuk positioning seniman Bali. Seni Bali harus dihormati tinggi oleh pemimpin negeri ini jika tidak, lebih baik tidak usah terlibat. Karena seni Bali mampu menembus luar negeri melebihi negeri ini. Rasa jengah ini harus dipupuk kuat.

  3. Sebagai orang yang tahu sejak kecil bahkan sejak PKB pertama dan beberapa kali mengisi acara baik dalam hal pameran hasil tenun maupun menari mewakili daerah Buleleng dalam sendratari Puputan Jagaraga dan sendratari Jayaprana Layonsari (walau sebagai figuran) saat masih SMA, maka Sya mengajak, masyarakat Bali perlu fokus menjadikan PKB sebagai puncak momentum tahunan untuk menampilkan segala karya seni dan hasil kerajinan tanpa peduli siapapun sosok pejabat pusat yang menaruh kepedulian atas PKB. Seni Bali harus jengah, jika pemimpin negeri tidak peduli masih ada luar negeri yang mengapresiasi seni Bali kita.

“Saya memang sering berseberangan dengan Gubernur Koster dalam banyak hal kebijakannya,itu dilakukan agar daya kritis di Bali tetap terbangun dan kebijakan menjadi lebih tajam efektivitasnya.Tetapi dalam hal menjaga seni budaya Bali tetap terhormat maka saya memilih mengapresiasi langkah Koster kali ini,” tegas GPS.

Seni Bali bisa mandiri,bahkan bila perlu ke depan biar pejabat pusat yang merengek untuk hadir tebar pesona ke Bali.

Tidak perlu lagi diributkan Presiden hadir atau tidak. Nikmati saja PKB sebagai hiburan kita warga Bali. Jika ada orang luar Bali dan luar negeri hadir ya kita syukuri, jika tidak ya tetap saja jalan. Begitu juga dengan Pejabat pusat. Mereka kira dengan bisa berjoget gemoy sudah dianggap seniman,padahal jauh dari “standar seni” bagi orang Bali.

“Bali perlu jengah jika seni budayanya tidak dianggap,”pungkas GPS,Minggu (14/06/24).

(Red-JBL)

Komentar