149,95 Hektare Sawah di Jatim Puso akibat Kekeringan, Petani Terancam Gagal Panen

Daerah, Ekonomi121 Dilihat

SURABAYA โ€” oponus.com

Kekeringan mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor pertanian Jawa Timur. Hingga 10 September 2026, sebanyak 149,95 hektare lahan padi di Jawa Timur telah dinyatakan puso atau gagal panen akibat kekurangan air.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Jawa Timur mencatat total lahan pertanian yang terdampak kekeringan mencapai 3.856 hektare. Dari jumlah tersebut, 597,11 hektare merupakan lahan tanaman padi, sementara 149,95 hektare di antaranya sudah tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan puso.

Kepala DPKP Jawa Timur Heru Suseno menjelaskan, lahan yang terdampak kekeringan belum tentu seluruhnya mengalami gagal panen. Sebagian tanaman masih dapat diselamatkan apabila mendapatkan pasokan air.

Namun, lahan yang sudah masuk kategori puso merupakan tanaman yang mengalami kerusakan berat dan tidak lagi dapat melanjutkan pertumbuhan.

โ€œPuso itu ya sudah gagal panen, tidak bisa diselamatkan.โ€ kata Heru Suseno.

Puncak Kemarau Jadi Ancaman

Kondisi ini terjadi ketika Jawa Timur masih berada dalam periode puncak musim kemarau. BMKG sebelumnya memperkirakan September 2026 masih menjadi periode dengan curah hujan yang sangat rendah di sebagian besar wilayah Jawa Timur.

Keterbatasan air menjadi persoalan utama bagi petani, terutama di wilayah yang tidak memiliki jaringan irigasi memadai atau sumber air alternatif.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap kondisi mulai membaik ketika memasuki Oktober. Namun, hujan diperkirakan tidak langsung turun merata di seluruh wilayah.

Pemprov Siapkan Bantuan Benih

Untuk mengantisipasi bertambahnya luas lahan puso, Pemprov Jawa Timur telah menyiapkan bantuan benih melalui perubahan APBD 2026.

Bantuan tersebut dipersiapkan untuk lahan hingga 1.000 hektare apabila dampak kekeringan terus meluas. Pemerintah berharap luas lahan yang mengalami gagal panen tidak sampai mencapai angka tersebut.

Selain bantuan benih, pemerintah dan instansi terkait juga melakukan berbagai upaya penyelamatan lahan, termasuk pompanisasi dan optimalisasi saluran irigasi.

Kementerian Pertanian sebelumnya menargetkan sedikitnya 95 persen dari sekitar 1.000 hektare lahan yang terancam kekeringan di Jawa Timur dapat diselamatkan melalui percepatan pompanisasi serta pembangunan sumur dalam dan sumur dangkal.

DPRD Minta Penanganan Tidak Menunggu Sawah Puso

Ancaman kekeringan juga mendapat perhatian DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi B DPRD Jatim Ony Setiawan meminta pemerintah tidak hanya mendata lahan yang sudah gagal panen, tetapi juga memprioritaskan penyelamatan lahan yang masih berpotensi dipertahankan.

Menurutnya, pemetaan harus mencakup lokasi lahan, kondisi sumber air, kebutuhan pompa, hingga potensi pembangunan sumur bor.

Langkah tersebut penting karena penanganan setelah tanaman mengalami puso berarti pemerintah sudah kehilangan kesempatan untuk menyelamatkan produksi pada musim tanam tersebut.

Risiko terhadap Produksi Pangan

Jawa Timur merupakan salah satu wilayah penting dalam produksi padi nasional. Karena itu, bertambahnya luas sawah yang mengalami puso perlu mendapat perhatian, terutama apabila kekeringan berlangsung lebih lama dari perkiraan.

Namun, angka 149,95 hektare puso tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai ancaman terhadap ketahanan pangan secara keseluruhan. Sebagian besar lahan yang terdampak kekeringan masih dapat diselamatkan, dan pemerintah terus melakukan intervensi untuk menjaga produksi.

Fokus utama dalam beberapa pekan ke depan adalah memastikan lahan yang masih terdampak tidak berubah status menjadi puso.

Menunggu Hujan Oktober

Pemprov Jawa Timur berharap hujan mulai turun pada Oktober sehingga tekanan kekeringan berkurang. Jika pasokan air kembali tersedia, peluang penyelamatan tanaman yang masih bertahan akan semakin besar.

Sebaliknya, apabila hujan datang terlambat atau tidak merata, luas lahan yang mengalami gagal panen berpotensi bertambah.

Untuk saat ini, 149,95 hektare sawah sudah dinyatakan puso, sementara 597,11 hektare lahan padi masih berada dalam kategori terdampak kekeringan. Kondisi cuaca dalam beberapa pekan ke depan akan menjadi faktor penting yang menentukan apakah angka tersebut berhenti di level saat ini atau kembali meningkat.

Komentar